Orang yang tidak belajar pada kenangan, mungkin akan sulit dalam usaha mencapai kemenangannya.
"Seperti hujan, begitu aku memujamu. Kutumpahkan segala yang telah kutampung untuk bisa kau nikmati sebagai tanah."
Thursday, 6 March 2014
Wednesday, 5 March 2014
Bela Bangsa - Belkastrelka
Tiba-tiba saja malam ini. Bela Bangsa oleh Belkastrelka.
Setelah membeli CDnya entah sejak kapan tahun, mendengarkannya sesekali, dan kemudian menjadi seringkali, lantas berkali-kali.
Saya membeli CD Bela Bangsa - Belkastrelka ini di sebuah toko buku dan musik di Bandung, Omuniuum.
Sebelumnya saya tidak mengetahui sedikitpun tentang Belkastrelka, namun dengan desain cover 'bermakna banyak' yang disuguhkan inilah saya memutuskan untuk membeli CDnya, terlebih dengan judul album Bela Bangsa, cukup membuat penasaran juga.
Pertama kali CD ini melagu di telinga, saya masih merasa "asing" dengan musik yang dibawakan. Apa ya, musik Belkastrelka ini cukup absurd, ya begitulah bagi saya yang tak paham-paham amat soal musik ini. Sembari CD diputar, saya asyik membuka-buka kemasan seluruhnya. Desain gambar pada kemasan seluruhnya membuat saya berkhayal lebih jauh. Bonus 2 buah stiker yang juga jenaka juga membuat geli sendiri rasanya. Ada satu hal yang membuat saya agak tercengang -tapi tak heran juga sebenarnya-, Belkastrelka mengizinkan lagu-lagu dalam CD ini dibajak, begini bunyinya: "Boleh membajak asal tidak untuk kepentingan komersial". Artinya, kita bisa saja membagikan kepada kerabat kita dengan mudah dan halal. Melihat ketulusan mereka dalam bermusik, menjadi tak aneh ketika tulisan ini terbaca juga.
Terdapat 13 lagu di dalam album ini, berikut adalah lagu-lagu memabukkan itu:
1. Rumah Kardus
2. Pujian Expatriat
3. Agen Gosip
4. Kucing Gering Football Club
5. Stasiun Lupa
6. Pertarungan di Pinggir Selokan
7. Nyanyian Pengantin
8. Jalanan Buruk
9. Kampung yang Tenggelam
10. Mitos Bangsa Ramah
11. Epik Jalanan
12. Duit Duit (Emang Selalu Kurang)
13. Gugur Gunung
Ketigabelas lagu tersebut secara umum mengangkat persoalan-persoalan sosial sederhana dan sedikit tentang cinta yang terjadi di kehidupan sehari-hari kita. Tapi, mejadi tak sederhana lagi ketika mendengarkan dengan seksama. Tergambar jelaslah potret bangsa kita (yang perlu dibela dan saling membela ini).
Favorit saya adalah Stasiun Lupa, Rumah Kardus, Pertarungan di Pinggir Selokan, Jalanan Buruk, dan Mitos Bangsa Ramah. Hahaha. Semuanya saya suka sebenarnya.
Sulit bagi saya untuk menjelaskan kenapa lagu-lagu tersebut bisa begitu terngiang, mungkin kutipan maupun lirik utuh ini akan mampu menjelaskan lebih banyak:
Stasiun Lupa
..........
..........
..........
Demi apapun putarlah sembarang lagu
Agar suara itu tak terdengar
Aku butuh tandai tubuhku
Sebelum seseorang melupakanku
Tak ada hitungan, tak akan ada hitungan
Setelah ini semua orang lupa
Pahlawan hari ini tercatat pada kertas tisu
Yang 'kan kau gunakan untuk keringatmu
Rumah Kardus
Mari dirikan rumah kardus
Biar gampang terbakar
Cepat terhapus
Bahkan oleh hujan
Tapi ada kursi di taman belakang
buat minum teh dan baca koran
sebuah sepeda dan sejumlah ingatan
mungkin tak perlu cinta yang terlalu
karena di sini semua cepat berlalu
Pertarungan di Pinggir Selokan
Panggung muram di halaman / itu tak menawarkan /
harapan kursi-kursi / kosong beberapa diisi /
anak-anak yang tak punya / hiburan di luar /
kemiskinan bergerombol / mencari musuh /
yang bisa dipukulinya / kemiskinan yang lain
Mereka berkumpul / di dalam selokan yang gelap /
mirip semak-semak yang / dingin dan mengerikan /
Tinggal menunggu waktu / di mana peperangan / akan dimulai
Lagu-lagu cinta akan mengiringi para hero ke medan laga
Semalam keributan sudah terjadi di kampung sebelah /
Malam ini adalah kelanjutan yang dinanti-nantikan
Beban keseharian sejenak terlupakan
tinggal pahlawan atau pecundang /
Dan "Keong Racun" diputar lagi di panggung
Mempercepat degup jantung
Mempercepat pedang dilolos
Aku pergi sebelum sesuatu akan terjadi
Jalanan Buruk
Jalanan buruk ini harus diterima
Ia seperti wajah kita
Penuh lobang dan genangan sisa hujan
Jalanan buruk ini membuatku berlama-lama
di jalan sebelumnya akhirnya bisa menemuimu
Jalanan buruk ini telah mengantarku ke panggung-panggung
yang jatuh cinta pada suaramu
Ke tempat-tempat di mana uang berguguran seperti hujan
Meski hanya ribuan, ia akan membasahi tubuhmu
Jalanan buruk ini telah mengantarkanmu kemana-mana
Jalanan buruk ini telah mengantarkanmu kemana-mana
Mitos Bangsa Ramah
Setelah membeli CDnya entah sejak kapan tahun, mendengarkannya sesekali, dan kemudian menjadi seringkali, lantas berkali-kali.
Saya membeli CD Bela Bangsa - Belkastrelka ini di sebuah toko buku dan musik di Bandung, Omuniuum.
Sebelumnya saya tidak mengetahui sedikitpun tentang Belkastrelka, namun dengan desain cover 'bermakna banyak' yang disuguhkan inilah saya memutuskan untuk membeli CDnya, terlebih dengan judul album Bela Bangsa, cukup membuat penasaran juga.
Pertama kali CD ini melagu di telinga, saya masih merasa "asing" dengan musik yang dibawakan. Apa ya, musik Belkastrelka ini cukup absurd, ya begitulah bagi saya yang tak paham-paham amat soal musik ini. Sembari CD diputar, saya asyik membuka-buka kemasan seluruhnya. Desain gambar pada kemasan seluruhnya membuat saya berkhayal lebih jauh. Bonus 2 buah stiker yang juga jenaka juga membuat geli sendiri rasanya. Ada satu hal yang membuat saya agak tercengang -tapi tak heran juga sebenarnya-, Belkastrelka mengizinkan lagu-lagu dalam CD ini dibajak, begini bunyinya: "Boleh membajak asal tidak untuk kepentingan komersial". Artinya, kita bisa saja membagikan kepada kerabat kita dengan mudah dan halal. Melihat ketulusan mereka dalam bermusik, menjadi tak aneh ketika tulisan ini terbaca juga.
Terdapat 13 lagu di dalam album ini, berikut adalah lagu-lagu memabukkan itu:
1. Rumah Kardus
2. Pujian Expatriat
3. Agen Gosip
4. Kucing Gering Football Club
5. Stasiun Lupa
6. Pertarungan di Pinggir Selokan
7. Nyanyian Pengantin
8. Jalanan Buruk
9. Kampung yang Tenggelam
10. Mitos Bangsa Ramah
11. Epik Jalanan
12. Duit Duit (Emang Selalu Kurang)
13. Gugur Gunung
Ketigabelas lagu tersebut secara umum mengangkat persoalan-persoalan sosial sederhana dan sedikit tentang cinta yang terjadi di kehidupan sehari-hari kita. Tapi, mejadi tak sederhana lagi ketika mendengarkan dengan seksama. Tergambar jelaslah potret bangsa kita (yang perlu dibela dan saling membela ini).
Favorit saya adalah Stasiun Lupa, Rumah Kardus, Pertarungan di Pinggir Selokan, Jalanan Buruk, dan Mitos Bangsa Ramah. Hahaha. Semuanya saya suka sebenarnya.
Sulit bagi saya untuk menjelaskan kenapa lagu-lagu tersebut bisa begitu terngiang, mungkin kutipan maupun lirik utuh ini akan mampu menjelaskan lebih banyak:
Stasiun Lupa
..........
..........
..........
Demi apapun putarlah sembarang lagu
Agar suara itu tak terdengar
Aku butuh tandai tubuhku
Sebelum seseorang melupakanku
Tak ada hitungan, tak akan ada hitungan
Setelah ini semua orang lupa
Pahlawan hari ini tercatat pada kertas tisu
Yang 'kan kau gunakan untuk keringatmu
Rumah Kardus
Mari dirikan rumah kardus
Biar gampang terbakar
Cepat terhapus
Bahkan oleh hujan
Tapi ada kursi di taman belakang
buat minum teh dan baca koran
sebuah sepeda dan sejumlah ingatan
mungkin tak perlu cinta yang terlalu
karena di sini semua cepat berlalu
Pertarungan di Pinggir Selokan
Panggung muram di halaman / itu tak menawarkan /
harapan kursi-kursi / kosong beberapa diisi /
anak-anak yang tak punya / hiburan di luar /
kemiskinan bergerombol / mencari musuh /
yang bisa dipukulinya / kemiskinan yang lain
Mereka berkumpul / di dalam selokan yang gelap /
mirip semak-semak yang / dingin dan mengerikan /
Tinggal menunggu waktu / di mana peperangan / akan dimulai
Lagu-lagu cinta akan mengiringi para hero ke medan laga
Semalam keributan sudah terjadi di kampung sebelah /
Malam ini adalah kelanjutan yang dinanti-nantikan
Beban keseharian sejenak terlupakan
tinggal pahlawan atau pecundang /
Dan "Keong Racun" diputar lagi di panggung
Mempercepat degup jantung
Mempercepat pedang dilolos
Aku pergi sebelum sesuatu akan terjadi
Jalanan Buruk
Jalanan buruk ini harus diterima
Ia seperti wajah kita
Penuh lobang dan genangan sisa hujan
Jalanan buruk ini membuatku berlama-lama
di jalan sebelumnya akhirnya bisa menemuimu
Jalanan buruk ini telah mengantarku ke panggung-panggung
yang jatuh cinta pada suaramu
Ke tempat-tempat di mana uang berguguran seperti hujan
Meski hanya ribuan, ia akan membasahi tubuhmu
Jalanan buruk ini telah mengantarkanmu kemana-mana
Jalanan buruk ini telah mengantarkanmu kemana-mana
Mitos Bangsa Ramah
Dimanakah senyummu itu
yang biasa s'lalu menyambutku
Katakan apa masalahmu
Kenapa jadi begitu padaku
Ooh, aku tak tahu
Bisakah kita seperti dulu
Saling peduli dan menghargai
Apa jadinya hidup ini
Bila engkau memalingkan muka
Oh, jangan jangan libatkan aku
dalam urusan rumah tanggamu
Ooh, aku tak mau
Tetaplah seperti yang dulu
Apapun yang terjadi kau s'lalu
Tersenyum padaku
Bisakah kita seperti dulu
Saling peduli dan menghargai
Apa jadinya hidup ini
Bila engkau memalingkan muka
Sunday, 2 March 2014
Bertemu Komodo di Pulau Rinca
Pagi hari di Labuan Bajo, saatnya menjalankan ritual wajib jika kita berwisata ke Labuan Bajo “island hopping”. Yap! Hari ini pulau pertama yang akan kami kunjungi adalah Pulau Rinca, tepatnya resort Loh Buaya. Ternyata, komodo tidak hanya bisa ditemui di Pulau Komodo saja lho. Menurut pemandu wisata kami, komodo di Pulau Rinca konon lebih banyak dan lebih besar dibandingkan di Pulau Komodo sendiri.
Aktivitas yang akan kami lakukan di Pulau Rinca adalah trakking untuk ‘bertemu’ dengan komodo. Di sini tentunya tidak seperti kebun binatang yang dengan mudahnya kita dapat melihat hewan secara ‘pasti’. Di kawasan hutan Taman Nasional Komodo ini kami harus jeli terhadap keberadaan komodo. Terlebih, dengan warna kulitnya yang coklat, seringkali samar di antara semak – semak. Terdapat 3 buah jalur trakking yang disediakan bagi para wisatawan, yaitu long track (5 - 6 km dengan waktu tempuh 2 jam), medium track (3 – 4 km dengan waktu tempuh 1,5 jam), dan yang terakhir adalah short track (2 km dengan waktu tempuh 1 jam).
Oh iya! Ada hal penting yang harus diperhatikan jika kita hendak ‘bertemu’ komodo. Pertama, komodo adalah hewan kanibal, komodo sangat peka terhadap bau darah dan warna merah. Jangan nekat mengikuti trakking jika menggunakan baju merah. Begitu pula, jika teman – teman dalam keadaan memiliki luka berdarah, atau bagi para wanita, sedang datang bulan. Selain itu, komodo juga sangat peka terhadap ‘pancingan gerak’, semisal tali kamera, tas, atau hp yang menjuntai, maupun gerakan – gerakan lain yang bersifat memancing insting komodo.
Eh iya, selain komodo, sesuai dengan namanya “Loh Buaya” yang berarti Teluk Buaya, di sini –pastinya- terdapat buaya! Ada dua jenis buaya yang hidup di sini, yaitu buaya laut dan land crocodile (buaya darat). Pokoknya, kalau sudah disini, kita harus super hati – hati!! Keselamatan kita tergantung kewaspadaan kita!
Whohoho, panas cuaca tidak menghalangi kami untuk bertemu hewan legendaris itu, cucunya naga. Hehe. NAH! Tempat pertama kali kami bertemu dengan komodo ternyata tidak terlalu jauh dari titik awal kami berangkat. Ini adalah dapurnya para ranger, komodo seringkali datang karena mencium bau makanan. Tapi sayang, komodo disini kondisinya sangat menyedihkan. Banyak dari komodo – komodo ini yang sudah tidak bisa berjalan karena kakinya sudah patah akibat bertarung dengan sesama komodo, badannya juga sangat kurus – kurus. Akhirnya,
kesampaian juga melihat legenda hidup yang satu ini. Meski, tidak menyangka
bahwa komodo yang selalu tampak gagah di TV, beberapa yang kami lihat hanya
bisa pasrah di atas tanah. Kami melanjutkan perjalanan, berharap menemukan komodo yang lebih baik.
WHOHOHO! Ternyata Tuhan memberikan keberuntungan kepada kami! Tepat di depan rombongan kami lewat seekor bayi komodo. Pemandu wisata kami sampai berdecak kagum. “Waah, jarang sekali yang seperti ini bisa kejadian. Bertemu dengan komodo dewasa saja untung – untungan, lha kalian bisa bertemu dengan bayinya, bersyukurlah kalian.” Waah, mendengar peristiwa ini termasuk jarang, kami tersanjung juga. Hehe. Pemandu kami kemudian melanjutkan penjelasannya ....
Kami berjalan kembali, dan terus berjalan, sampai akhirnya kami bertemu jalan menanjak. Kami belum tahu akan berujung dimana jalan ini, hingga akhirnya.... Pulau Rinca menjawab. Suguhan pemandangan menakjubkan lagi – lagi kami dapatkan!
Thursday, 27 February 2014
Bukit Cinta, Labuan Bajo
Hiyah!
Setelah sebelumnya menyaksikan perjalanan kami di Pantai
Malimbu, Lombok, saat ini kami tengah berada di atas kapal feri yang membawa
kami ke LABUAN BAJO! Yap! Kami sudah merapat ke dermaga saat ini.
muda
Labuan Bajo.
Bukit Cinta! Begitu tempat ini disebut. Tidak perlu banyak bertanya
kenapa tempat ini dinamakan bukit cinta. Kita akan tahu setelah sampai di
puncak. Tidak mudah untuk menaiki bukit cinta, diperlukan
kekuatan cinta yang besar untuk memacu semangat kita. Hahaha
Medannya cukup terjal, kuda – kuda harus terpasang kuat nih! Oiya, kalau ke sini usahakan pakai
sandal gunung atau alas kaki yang cukup mencengkeram.
Nah!
Sekarang tahu ‘kan
kenapa dinamakan bukit cinta? Gak bisa diungkapkan pakai kata – kata deh! Kamu harus datang sendiri kesini dan merasakan gelora cinta
di atas sini, cinta dari Indonesia untuk setiap mata yang menyaksikan dan hati
yang merasakan.
Tempat Rahasia di Malimbu
Halo!
Pagi ini saya dan teman – teman JTRIP tengah transit di Lombok dalam perjalanan kami menuju Labuan Bajo. Berhubung kami baru akan berangkat kembali esok hari, maka hari ini kami putuskan untuk mengunjungi Pantai Malimbu. Pantai Malimbu berjarak sekitar 30 kilometer dari kota Mataram, tempat kami menginap. Kurang lebih satu jam perjalanan, kami tiba di Malimbu Sunset Point, yaa walaupun hari masih siang sih. Hehe.
WHOOW!
Ternyata tak jadi soal, meskipun siang hari, pemandangan dari atas sini sangat luar biasa menakjubkan! Airnya biru jernih. Birunya laut dan birunya langit membentang di hadapan kita. Karang – karang pun terlihat sangat jelas, lho. Ingin sekali rasanya melompat dari atas sini. Hahaha.
Di perjalanan pulang, driver kami tiba – tiba berhenti dan meminta kami mengikutinya. Bapak Urip, sang driver, masuk ke sebuah bangunan yang belum jadi. Kami yang tak tahu apa – apa ini mengikutinya.
WHOHOHOW!
Ternyata Pak Urip membawa kami ke surga dunia! Tempat dimana kebesaran Tuhan tak terbantahkan. Garis pantai tepat di depan batang hidung kami. Mata kami seolah terbagi, mata kiri untuk memandang gunung yang menjulang dan mata kanan untuk menyaksikan laut yang membentang.
J-TRIP Goes to Labuan Bajo
Setelah sebelum-sebelumnya J-Trip nge-Trip di pulau Jawa aja, yakni ke ujung timur Jawa (Taman Nasional Alas Purwo - Banyuwangi dan Bromo) dan ujung barat Jawa (Taman Nasional Ujung Kulon), 25 Agustus - 08 September lalu J-TRIP berkesempatan dalam kesempitan (karena kali ini kita jalan di hari kuliah) nge-trip ke bagian timur Indonesia. Berikut liputannya!
Minggu, 25 Agustus 2013 - Jatinangor 16.00 WIB
Yap! Hari ini adalah hari ini! A journey of a thousand miles begins!
Ribuan kilometer akan kami tempuh, bertolak dari Alfa Bungamas, Jatinangor Damri Shuttle menjadi kendaraan kami menuju Stasiun Kiara Condong, Bandung, Jawa Barat.
Alfa Bungamas - Jatinangor
Coolest Damri ever!
Ditemani senja yang kian jatuh menuju malam, perjalanan kami dimulai, kami tiba di stasiun Kiara Condong kurang lebih menjelang Isya. Setibanya di stasiun kami segera mencari warung makan untuk mengisi perut ini hingga besok pagi. Konon katanya pedagang asongan sudah tidak lagi diperkenankan berjualan di atas kereta. Setelah mengisi waktu dengan ini itu, pukul 20.30 WIB kami melaju dengan Kereta Kahuripan menuju Lempuyangan, Yogyakarta.
Senin 26 Agustus 2013 - Yogyakarta 04.47 WIB
Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta
Selamat pagi, Lempuyangan!
Senang sekali berada di sini, menempuh perjalanan semalaman dan pagi harinya sudah berada di tempat lain, kota Yogyakarta, provinsi Jawa Tengah. Di sini, dengan cara yang berbeda keindahan Indonesia terasa selalu membahagiakan.
07.45 WIB perjalanan kami menyambung perjalanan menuju Banyuwangi Baru dengan kereta Api Sri Tanjung. Kereta kami singgah di stasiun Gubeng, Surabaya, Jawa Timur.
Stasiun Gubeng - Surabaya
Setelah meng-Gubeng kurang lebih setengah jam, kereta kembali melahap puluhan kilometer rel di hadapannya. Memasuki Sidoarjo, kami melewati situs pebuh fenomena abad ini "(Wisata) Lumpur Porong Sidoarjo". Memang dasar manusia Indonesia oportunis, bencana pun bisa jadi uang.
Omong-omong soal Bendungan Lumpur Porong, saya punya pandangan sendiri akan peristiwa ini. Imajinatif. Tahu kan apa itu cerita legenda? Seperti cerita di balik Danau Toba, Gunung Tangkuban Perahu, saya pikir ARB pun berniat melakukan hal yang sama. Dengan (kesalahan) kecanggihan teknologi pengeboran, Beliau mencoba membuat legenda tentang dirinya.
Wisata Lumpur Porong, Sidoarjo
20.40 WIB kami tiba di Stasiun Banyuwangi Baru. Beberapa dari kami, termasuk saya, menumpang mandi di Indomart. Ternyata mas-masnya gak ikhlas, waktu saya mandi doi menggerutu karena ternyata yang numpang mandi bukan hanya 1 orang, teman saya yang minta izin padanya memang cuma satu soalnya. Hahaha.
11.00 WIB Berjalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang melintasi selat selat Bali untuk kemudian berlabuh di Gilimanuk, Bali.
01.30 WITA
Tba di Gilimanuk, bis yang telah kami pesan sudah menunggu untuk membawa kami ke pelabuhan Padang Bai.
07.00 - WITA
Tiba di Padang Bai, Bali. Persiapan menyebrang menuju Lombok.
Tiba di Padang Bai, Bali. Persiapan menyebrang menuju Lombok.
Pelabuhan Padang Bai, Bali
Monday, 24 February 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)