"Seperti hujan, begitu aku memujamu. Kutumpahkan segala yang telah kutampung untuk bisa kau nikmati sebagai tanah."
Tuesday, 27 November 2012
Kamu Harus Tahu Rasanya
Halo, cukup lama tidak mendengar tentang kamu
Bukan karena tidak mau tahu, memang seharusnya tak perlu tahu
Apa kabar kamu?
Apakah air mata masih menjadi kubangan di matamu?
Siap tumpah ketika tentang kita kembali datang dalam pikirmu
Entah mengapa kamu begitu payah sekarang
Dulu kamu berani membuat aku berang
dengan menghancurkan semua angan
Tak peduli berapa banyak detik yang jatuh seiring penyesalanmu
Aku tidak ingin memungutnya kembali
lalu kemudian merangkainya lagi menjadi waktu
Biarkan detik-detik yang dulu menonton kita luruh
Aku ingin penyesalan memenuhi peparumu
Hingga kamu sesak
dan kemudian menjadi tak berotak
Kamu harus tahu rasanya.
Sunday, 23 September 2012
Bincang-Bincang dengan Tuhan Soal Kematian
Akhirnya harus kita akui bahwa hanya Tuhanlah Sang Maha. Yang bisa mencabut hidup manusia kapan saja semauNya. Jika Tuhan mengizinkan aku menginterupsi, akan kukatakan begini:
"Tuhan, bisakah Kau ubah wewenangMu yang satu itu? Biarlah kami hidup tanpa mati. Kami terbayang indahnya surga, tapi apa arti bila harus terpisah dari orang-orang yang kami cinta."
-meski mungkin agama bilang "Cintailah Tuhanmu di atas segalanya".
-meski mungkin agama bilang "Cintailah Tuhanmu di atas segalanya".
Kematian itu katanya adalah saat untuk bertemu Tuhan. "Tuhan, bisakah Kau janji padaku bahwa kita akan benar-benar bertemu? Tapi ingat Tuhan, aku juga ingin bertemu kembali dengan keluargaku." -meski ada yang bilang setelah mati, mantan manusia tidak akan saling kenal.
"Aku tahu mungkin ini keluhan yang terdengar bodoh. Tapi Tuhan, aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal mati, kematian. Inginku tidak ada mati. Kalau kita harus bertemu, kenapa tidak Tuhan turun ke bumi lantas tinggal bersama-sama kami, manusia, di sini. Lalu Tuhan ubah bumi ini menjadi surga. Tuhan kan bisa segalanya ;)"
Tapi aku yakin, apapun alasan Tuhan memanggil kami, pasti Tuhan telah sediakan yang terindah untuk kami. Tuhan, sekarang bantu kami dalam hidup di dunia ini. Agar setiap hal yang kami lakukan baik untuk Tuhan. Sehingga kelak kami layak bertemu Tuhan. :)
Terbayang tentang Mati
Siklus hidup itu sederhana, lahir, menjalani hidup, kemudian mati. Tapi nyatanya kematian tidak pernah sesederhana itu. Baik ia yang menghadapi kematian maupun yang dihadapkan pada situasi ditinggal mati.
Kematian itu kompleks. Menorehkan pedih bagi yang ditinggal, penyesalan yang absolut tidak dapat diperbaiki lagi untuk kemudian kita tunjukkan pada dia yang sudah pergi.
Ditinggal mati itu, nyatanya menutup semua kemungkinan untuk berjumpa kembali. Yang mati itu, pergi jauh sekali, tidak kembali. Wajahnya tidak akan pernah terpantul pada dua bola mata kita lagi.
Ditinggal mati itu, membuat sebagian orang merasa terpukul karena berpisah dengan belahan hatinya dengan pertengkaran sebelumnya, dengan perselisihan tak penting, yang akhirnya tak punya waktu untuk saling memaafkan.
Kompleksitas ditinggal mati biasanya berkutat pada kusutnya tali-tali penyesalan. Semrawut yang tidak hanya di otak, tapi juga mengikat ketat hati, hingga sesak. Tak jarang, orang yang tak mampu memaafkan dirinya juga bisa menyusul mati.
Maka dari itu, sebelum ada penyesalan, sebelum tiba waktu yang entah kapan. Damaikanlah hati dan hidupmu dengan setiap orang.
Wednesday, 19 September 2012
Menonton Gerimis
Selamat pagi,
Di luar sana masih sepi
Tanah masih meresah basah akibat air mata langit yang tumpah semalam
Ribuan butirnya pecah di oranye genting gubuk kita
Ratusan di antaranya berhasil jatuh di lantai tanah
Akibat lubang pada atap yang kita tak mampu renovasi
Kering daun-daun gugur melemah koyak
Tak lagi melayang-layang seperti siang kemarin
Mereka mati yang kedua kali
Sudah dilepas ranting, disiksa pula oleh rintik
Selamat pagi,
Udara tetap sama seperti pagi-pagi biasanya
Dingin, lembab
Hanya saja lebih romantis akibat rintik gerimis yang masih saja
Hanya saja,
Romantis itu jika ada kamu
Tapi nyatanya tak
Jangankan kamu,
Bayanganmu tak kau izinkan tinggal
Kamu pergi dengan pria Rusia itu
Hanya aku yang miris di sini
Menatap gerimis
Bukan aku mengemis,
Tapi memang benar hatiku teriris
Kopi panas, kopi pahit panas
Dulu aku bahkan tak butuh sebutir gula
Ketika menyeruputnya dengan wajahmu mengisi penuh bola mataku
Ketika rona wajahmu membahana di hatiku
5 sendok makan sudah gula
Tak juga kurasa manis
6
7
8
9
Aku tahu
Aku tidak butuh gula
Aku butuh kamu untuk menemaniku menonton gerimis
Saturday, 15 September 2012
Cintamu Membusuk, Senasib dengan Kelaminku
Senja ini, kutulis sepucuk surat untukmu
Kekasihku yang cintanya padaku ku tak yakin tak membusuk
Setelah ribuan hari kita tapaki dengan hati telanjang
Dimana kita dapat merasakan butiran rasa di telapak hati
dan membuat kita harus bebersih ketika hendak masuk rumah
Kadang kita melalui tanah-tanah basah sehabis hujan cinta
Kadang terpeleset karena nafsu yang terlalu licin
Pernah pula kita terperosok dalam kubangan rindu
dan kita malah berkubang asyik di sana
Itu dulu
Ketika menginjak taik kucing tetangga
yang tak suka kita jalan berdua
Bukan masalah buatmu
Tak kau hiraukan hasil panen buah bibir mereka
yang tak pernah tak mencibir
Sekarang
Jangankan taik kucing tetangga
Cipratan air hujan pun enggan kau lalui bersamaku
Entah karena apa
Apa isi otakmu telah sama dengan para tetangga pelempar taik kucing itu?
Yang berpikiran bahwa perawan kebanggaan desa sepertimu
Tak layak jalan denganku
yang bukan hanya tak perjaka
Aku bahkan tak dapat mengingat
gadis desa mana saja yang telah kubuat tak perawan
Akhirnya pujaanku tahu
Akhirnya kamu tahu
Dan kamu menganggap tabu aku
Kamu jijik denganku
Cintamu saat ini
kurasa telah membusuk
Sebusuk kelaminku sekarang
Kekasihku yang cintanya padaku ku tak yakin tak membusuk
Setelah ribuan hari kita tapaki dengan hati telanjang
Dimana kita dapat merasakan butiran rasa di telapak hati
dan membuat kita harus bebersih ketika hendak masuk rumah
Kadang kita melalui tanah-tanah basah sehabis hujan cinta
Kadang terpeleset karena nafsu yang terlalu licin
Pernah pula kita terperosok dalam kubangan rindu
dan kita malah berkubang asyik di sana
Itu dulu
Ketika menginjak taik kucing tetangga
yang tak suka kita jalan berdua
Bukan masalah buatmu
Tak kau hiraukan hasil panen buah bibir mereka
yang tak pernah tak mencibir
Sekarang
Jangankan taik kucing tetangga
Cipratan air hujan pun enggan kau lalui bersamaku
Entah karena apa
Apa isi otakmu telah sama dengan para tetangga pelempar taik kucing itu?
Yang berpikiran bahwa perawan kebanggaan desa sepertimu
Tak layak jalan denganku
yang bukan hanya tak perjaka
Aku bahkan tak dapat mengingat
gadis desa mana saja yang telah kubuat tak perawan
Akhirnya pujaanku tahu
Akhirnya kamu tahu
Dan kamu menganggap tabu aku
Kamu jijik denganku
Cintamu saat ini
kurasa telah membusuk
Sebusuk kelaminku sekarang
Selamat malam. Selamat bersantai, hai kamu yang hatinya rumbai-rumbai.
Friday, 14 September 2012
Otak, Roh, Hati Mendambamu
Selamat pagi mejelang siang.
Isi otakku masih melayang-layang
entah kemana mencari kamu yang katanya selalu terbayang.
Juga, yang kata rohku masih ia sayang.
Tengkorakku masih kosong tanpa cairan itu.
Aku terjaga, tapi belum jua bisa beranjak dari pembaringan ini.
Otakku mencarimu.
Hatiku pun, katanya menunggumu.
Ia yakin, kamu akan kembali pada suatu sore yang tak tentu.
Jatinangor 14 September 2012
Isi otakku masih melayang-layang
entah kemana mencari kamu yang katanya selalu terbayang.
Juga, yang kata rohku masih ia sayang.
Tengkorakku masih kosong tanpa cairan itu.
Aku terjaga, tapi belum jua bisa beranjak dari pembaringan ini.
Otakku mencarimu.
Hatiku pun, katanya menunggumu.
Ia yakin, kamu akan kembali pada suatu sore yang tak tentu.
Jatinangor 14 September 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)