Tak perlu terlalu, karena tak segalanya -- dan segalanya tak -- akan selalu.
"Seperti hujan, begitu aku memujamu. Kutumpahkan segala yang telah kutampung untuk bisa kau nikmati sebagai tanah."
Wednesday, 22 October 2014
Friday, 26 September 2014
Bukan Hanya di Hati
Kamu, yang Tuhan hadirkan -- atau mungkin sekadar Ia sisipkan -- dalam cerita hidupku
Bukan hanya mengisi hati dan membuatnya sehangat itu setiap senja
Tiap terbenamnya matahari, menambah dalam rasa
yang kau tanam pada hati yang pernah lebam
Kamu juga, memeriahkan pagiku dengan hadir di pikiran
Oia, pikiranku selalu mewartakan tentang kamu,
jauh lebih awal daripada jatuhnya surat kabar di depan pintu
Selalu Setiap pagi.
Kamu, akhirnya lebih sekadar di hati
Kamu, akhirnya lebih sekadar di hati
Kamu jadi inspirasi untuk setiap jatuhnya tinta yang berupaya merangkai puisi
Aku Baru Tahu Kamu Semenenangkan Itu
Lantas bagaimana jika tenang yang kudapat, hanya jika aku dalam pelukmu?
Lantas bagaimana jika muara yang ingin dituju air mataku hanya kutemukan ketika kubenamkan wajah di dadamu?
Lantas bagaimana jika pikiranku hanya bisa tenang ketika kusandarkan ia pada bahumu
Aku baru tahu kamu semenenangkan itu.
Jangan pernah pergi, ya.
Monday, 22 September 2014
Aku Ingin jadi Satu-satunya Definisi Cinta yang Kau Pahami
Pada pagi yang juga belum retas
Dan pula aku,tak bisa mencintaimu dengan biasa
Dan pula aku,tak bisa mencintaimu dengan biasa
mencintaimu dengan setengah, tidak dengan seluruh
Aku tidak pernah bisa mencintai tanpa jadi gila,
Aku tidak pernah bisa mencintai tanpa jadi gila,
tanpa menjadikanmu duniaku
Aku ingin kamu paham soal cinta yang tidak main-main
Aku ingin kamu paham soal cinta yang tidak main-main
dan aku ingin jadi satu-satunya definisi cinta yang kau pahami
Seumur hidupmu
Subscribe to:
Posts (Atom)