Monday, 22 September 2014

Berhenti Menulis Tangan

Pada ambang malam hari

Belakangan ini, aku mencoba mengurangi menulis dengan tangan

Menulis tangan buatku, bukan sekadar menggelar angan pada kertas
tapi juga mengajak perasaan untuk turut bekerja keras

Perasaanku telah banyak dikorbankan, 

ketika dulu aku masih sering menulis dengan tangan
Kesedihan, muak, dan kecewa terus coba disuratkan pena pada genggam jemari
Sementara benang luka pada hati dibuka kembali -- tercerabut helai demi helai

Menulis tangan buatku, berarti menghimpun kembali memori

yang untuk beberapa waktu bersembunyi pada sela-sela saraf

Menulis tangan buatku, berarti mengundang  organ tubuh, rasa yang telah luruh, 

juga percaya yang telah runtuh untuk rela dipersatukan guna mencipta cerita utuh
Meski kesatuannya hanya sekadar pura dalam waktu yang sekian paruh

Belakangan ini, aku mencoba mengurangi menulis dengan tangan

dan membiarkan inspirasi menulis diri pada laman bebas di udara
yang entah siapa sudi jadi pembaca

Setidaknya aku tidak perlu tersiksa sebegitunya

Konektivitas jemari, hati, dan memori yang terlampau kuat
melemahkan jiwa begitu payah



Thursday, 18 September 2014

Bertutur Pop Kultur



Langit imaji hari ini kian cerah
Kata zaman, ia telah menemukan wadah
untuk hujan ide yang kian ruah

Hujan ide seringkali datang membawa pesan 
dari geliat manusia pada zaman hari ini
Melarutkannya dalam kreasi 
Menentang persepsi hakiki

Sebagian penyair, menampungnya dalam puisi semau-mau
Sementara ahli gores, menampungnya dalam gambar semau-mau
Begitu pula tukang musik, mencipta lagu semau-mau
Juga tukang foto, semakin giat memamerkan foto semau-mau

Semua yang serba semau-mau itu
akibat manusia hari kini yang makin semau-mau
akibat zaman yang jauh maju dan tak kenal malu

Seringkali dibilang melantur 
tak membuat ide lantas luntur
Penyair, ahli gores, tukang musik, juga tukang foto terus mencoba bertutur
Berusaha merekam kultur dengan cara yang barangkali beda kontur

Langit imaji hari ini kian cerah
karena dunia tak lagi sesempit dulu
karena ide kian mudah diunggah
karena karya kian mudah diaku


Written for Persma Genera's Magazine #3. October 2014.

Saturday, 6 September 2014

Srenggani

Aku berjanji akan datang ke rumahmu pada dini hari
dengan membawa bibit bunga matahari
Yang katamu akan kau tanam pagi itu juga
sembari menemani Srenggani berlari-lari pada halaman rumah 
-- yang dahulu tempat ku dan mu 
menyemai benih biji bunga matahari

Semoga, ketika Srenggani usai berlari-lari
mekarnya bunga matahari telah dapat ia nikmati
Meski tak pernah tahu siapa penyemainya

Ketika nanti matahari telah tinggi
beri tahu Srenggani bahwa ada hati yang ia hidupi
dengan senyumnya yang mekar bersama bunga matahari


Saturday, 30 August 2014

Ketika senyummu lebih rekah dan matamu lebih binar bukan ketika bersamakuLantas, apa guna aku bagimu?

Sunday, 27 July 2014

Akal Kontur

Di antara dengkur dan pekur
serta igau lantur bapak dan ibuk

Hembus nafas bapak dan ibuk baur
di ruang petak yang memerangkap udara


Reyot dipan bambu menimbulkan decit
yang sama memilukannya
dengan ronta hati ibuk yang terlalu sakit


Tadi sore, dalam perjalanan pulang berjualan
Ibuk bertemu Pak Man, kawan lama bapak
Pak Man, kata ibuk,
memberi segenggam bunga bungur gugur
Seraya berkata
segala harap bapak dan ibuk padaku akan luntur

Akibat aku terjerembap
pada akal yang tak rata kontur



Cilegon, 27 Juli 2014

Sunday, 20 July 2014

Angin yang Enggan Lagi Menari

Terlalu sering aku menitipkan cerita
Pada siang hari yang diombang-ambing
angin  yang berjalan gontai

Teruntuk: Hutan Negeriku

Waktu-waktu belakangan
Angin tampak tak selera
menyapu debu-debu pinggir jalan
menyesah daun kering dari ranting
menghempas trembesi yang kian lebar

Kabar beredar,
Angin tengah didera lara
Sebab lebih dari sewindu --mungkin dekade mungkin abad
tak ia dengar kabar baik tentang Ibunda

Api tak henti meneror Ibunya
Sedihnya, ia dituduh bersekongkol
Mematikan Ibunya sendiri

“Aku tak mungkin dan tak ada daya memusnahkan Ibu”, tutur angin
“Bejat-bejat haus minyak itu melempar sulut ketika aku sedang menari-nari”
“Kini, aku enggan lagi menari, sungguh.”

Pantas saja, ceritaku tentang baik negeri tak pernah sampai pada dunia.




Monday, 30 June 2014

Camar yang Tak Lagi Sabar

Akan ada saat burung camar
tak lagi berputar-putar pada langit di atas laut
Koloni ikan kegemarannya
tak lagi berenang pada batas permukaan, mungkin terjerat kalut


Burung camar mencoba menumpuk sabar
kala pagi kemarin ia masih mencoba mengamati samudera

Berputar-putar dengan mata
menelusup genangan air bumi


Satu dua kali berputar


Terbit hingga terik matahari
memendar asa burung camar

"Ah sudahlah", katanya.

Burung camar meninggalkan langit di atas laut itu
Meninggalkan ketidakpastian itu

Asanya ia biarkan digantung senja
Harapnya tenggelam bersama matahari
yang tak akan datang lagi esok pagi

Tuesday, 3 June 2014

Sesungguhnya tidak ada hal lain yang dibutuhkan seorang perempuan daripada lelakinya dengan teramat sangat kecuali kepercayaan.
Soal paham dan tidak paham itu hanya soal pikiran yang belum tertanam keinginpahaman.
People change like the seasons. People change with or without any reasons.