Pada ambang malam hari
Belakangan ini, aku mencoba mengurangi menulis dengan tangan
Menulis tangan buatku, bukan sekadar menggelar angan pada kertas
tapi juga mengajak perasaan untuk turut bekerja keras
Perasaanku telah banyak dikorbankan,
ketika dulu aku masih sering menulis dengan tangan
Kesedihan, muak, dan kecewa terus coba disuratkan pena pada genggam jemari
Sementara benang luka pada hati dibuka kembali -- tercerabut helai demi helai
Menulis tangan buatku, berarti menghimpun kembali memori
yang untuk beberapa waktu bersembunyi pada sela-sela saraf
Menulis tangan buatku, berarti mengundang organ tubuh, rasa yang telah luruh,
juga percaya yang telah runtuh untuk rela dipersatukan guna mencipta cerita utuh
Meski kesatuannya hanya sekadar pura dalam waktu yang sekian paruh
Belakangan ini, aku mencoba mengurangi menulis dengan tangan
dan membiarkan inspirasi menulis diri pada laman bebas di udara
yang entah siapa sudi jadi pembaca
Setidaknya aku tidak perlu tersiksa sebegitunya
Konektivitas jemari, hati, dan memori yang terlampau kuat
melemahkan jiwa begitu payah
"Seperti hujan, begitu aku memujamu. Kutumpahkan segala yang telah kutampung untuk bisa kau nikmati sebagai tanah."
Monday, 22 September 2014
Thursday, 18 September 2014
Bertutur Pop Kultur
Langit imaji hari ini kian cerah
Kata zaman, ia telah menemukan wadah
untuk hujan ide yang kian ruah
Hujan ide seringkali datang membawa pesan
dari geliat manusia pada zaman hari ini
Melarutkannya dalam kreasi
Menentang persepsi hakiki
Sebagian penyair, menampungnya dalam puisi semau-mau
Sementara ahli gores, menampungnya dalam gambar semau-mau
Begitu pula tukang musik, mencipta lagu semau-mau
Juga tukang foto, semakin giat memamerkan foto semau-mau
Semua yang serba semau-mau itu
akibat manusia hari kini yang makin semau-mau
akibat zaman yang jauh maju dan tak kenal malu
Seringkali dibilang melantur
tak membuat ide lantas luntur
Penyair, ahli gores, tukang musik, juga tukang foto terus mencoba bertutur
Berusaha merekam kultur dengan cara yang barangkali beda kontur
Langit imaji hari ini kian cerah
karena dunia tak lagi sesempit dulu
karena ide kian mudah diunggah
karena karya kian mudah diaku
Written for Persma Genera's Magazine #3. October 2014.
Saturday, 6 September 2014
Srenggani
Aku berjanji akan datang ke rumahmu pada dini hari
dengan membawa bibit bunga matahari
Yang katamu akan kau tanam pagi itu juga
sembari menemani Srenggani berlari-lari pada halaman rumah
-- yang dahulu tempat ku dan mu
menyemai benih biji bunga matahari
Semoga, ketika Srenggani usai berlari-lari
mekarnya bunga matahari telah dapat ia nikmati
Meski tak pernah tahu siapa penyemainya
Meski tak pernah tahu siapa penyemainya
Ketika nanti matahari telah tinggi
beri tahu Srenggani bahwa ada hati yang ia hidupi
dengan senyumnya yang mekar bersama bunga matahari
Saturday, 30 August 2014
Sunday, 27 July 2014
Akal Kontur
Di antara dengkur dan pekur
serta igau lantur bapak dan ibuk
Hembus nafas bapak dan ibuk baur
di ruang petak yang memerangkap udara
Reyot dipan bambu menimbulkan decit
yang sama memilukannya
dengan ronta hati ibuk yang terlalu sakit
Tadi sore, dalam perjalanan pulang berjualan
Ibuk bertemu Pak Man, kawan lama bapak
Pak Man, kata ibuk,
memberi segenggam bunga bungur gugur
Seraya berkata
segala harap bapak dan ibuk padaku akan luntur
Akibat aku terjerembap
pada akal yang tak rata kontur
serta igau lantur bapak dan ibuk
Hembus nafas bapak dan ibuk baur
di ruang petak yang memerangkap udara
Reyot dipan bambu menimbulkan decit
yang sama memilukannya
dengan ronta hati ibuk yang terlalu sakit
Tadi sore, dalam perjalanan pulang berjualan
Ibuk bertemu Pak Man, kawan lama bapak
Pak Man, kata ibuk,
memberi segenggam bunga bungur gugur
Seraya berkata
segala harap bapak dan ibuk padaku akan luntur
Akibat aku terjerembap
pada akal yang tak rata kontur
Cilegon, 27 Juli 2014
Sunday, 20 July 2014
Angin yang Enggan Lagi Menari
Terlalu sering aku menitipkan cerita
Pada siang hari yang diombang-ambing
angin yang berjalan
gontai
Teruntuk: Hutan Negeriku
Waktu-waktu belakangan
Angin tampak tak selera
menyapu debu-debu pinggir jalan
menyesah daun kering dari ranting
menghempas trembesi yang kian lebar
Kabar beredar,
Angin tengah didera lara
Sebab lebih dari sewindu --mungkin dekade mungkin abad
tak ia dengar kabar baik tentang Ibunda
Api tak henti meneror Ibunya
Sedihnya, ia dituduh bersekongkol
Mematikan Ibunya sendiri
“Aku tak mungkin dan tak ada daya memusnahkan Ibu”, tutur
angin
“Bejat-bejat haus minyak itu melempar sulut ketika aku
sedang menari-nari”
“Kini, aku enggan lagi menari, sungguh.”
Pantas saja, ceritaku tentang baik negeri tak pernah sampai
pada dunia.
Monday, 30 June 2014
Camar yang Tak Lagi Sabar
Akan ada saat burung camar
tak lagi berputar-putar pada langit di atas laut
Koloni ikan kegemarannya
tak lagi berenang pada batas permukaan, mungkin terjerat kalut
Burung camar mencoba menumpuk sabar
kala pagi kemarin ia masih mencoba mengamati samudera
Berputar-putar dengan mata
menelusup genangan air bumi
Satu dua kali berputar
Terbit hingga terik matahari
memendar asa burung camar
"Ah sudahlah", katanya.
Burung camar meninggalkan langit di atas laut itu
Meninggalkan ketidakpastian itu
Asanya ia biarkan digantung senja
Harapnya tenggelam bersama matahari
yang tak akan datang lagi esok pagi
tak lagi berputar-putar pada langit di atas laut
Koloni ikan kegemarannya
tak lagi berenang pada batas permukaan, mungkin terjerat kalut
Burung camar mencoba menumpuk sabar
kala pagi kemarin ia masih mencoba mengamati samudera
Berputar-putar dengan mata
menelusup genangan air bumi
Satu dua kali berputar
Terbit hingga terik matahari
memendar asa burung camar
"Ah sudahlah", katanya.
Burung camar meninggalkan langit di atas laut itu
Meninggalkan ketidakpastian itu
Asanya ia biarkan digantung senja
Harapnya tenggelam bersama matahari
yang tak akan datang lagi esok pagi
Tuesday, 3 June 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)