Monday, 30 December 2013

Tinggal Kita Lihat

Setiap manusia katanya pintar
tinggal kita lihat sebesar apa lubang pada otaknya

Setiap manusia katanya pemurah
tinggal kita lihat seberapa hatinya berkarat
ketika ngengat memakan habis hartanya

Setiap manusia katanya cinta Tuhan
tinggal kita lihat seberapa banyak orang lagi
yang menuhankan cinta


Jatinangor, 30 Desember 2013

Friday, 27 December 2013

Sesap Harapan

Pagi ini kusesap kau sebagai harapan
Sehingga asaku tak menguap 
layaknya asap pada cokelat panas
yang kau sesap di teras rumah
setiap sore

Jatinangor, Desember 2013 

Hitam

Piringan hitam tetap setia mempersilahkan dirinya diputar sekali lagi
Sementara di luar sana payung-payung hitam kian terkembang
Gerimis
Pun langit, pun mata sang nyonya rumah

Jatinangor, Desember 2013

Teruslah Hidup

Sementara katup-katup udara membuka menutup
Aku tahu kau masih hidup

Hiduplah terus
Aku belum tahu bagaimana menghadapi hidup jika tiba waktu kantung udaramu menguncup

Rumahmu Menantikanmu Kembali

Sesekali kubiarkan kau lalu
Sehari dua hari
Jati sudah meranggas
Angin tak pula memberi tanda tegas
Bahwa kau akan berkemas
Kemudian bergegas kemari
Rumahmu
Menantikanmu
Kembali
Kita manusia, individu
--satu dari sekian triliun manusia di jagat raya-- 
harus percaya bahwa Ia yang adalah Satu
selalu memerhatikan kita
--yang setiapnya tercipta hanya satu ini--
di antara partikel-partikel jagat lainnya.

Sunday, 22 December 2013

Kereta Kehabisan Rel

Aku tertidur pada kereta yang membawaku entah kemana
Sesungguhnya, aku tak benar-benar tidur
Memejamkan mata berharap tenggelam dari pikuk suasana
Aku baru ingin membuka mata ketika kereta benar-benar telah tiba di tujuan
Atau, ku tak akan lagi membuka mata akibat ku tiba di kuburan
Sebab keretaku menumbuk gunung, karena ternyata rel yang harus dilaluinya telah habis.

Friday, 20 December 2013

Melewati Tugu, Kau Melewatiku

Kunantikan kau di gerbong 8
Tugu terlewati sudah
Namun kau tak jua di hadapanku saat ini

Keretaku telah melaju beberapa kilometer dari tempatmu berdiri
Kau memilih untuk tinggal dan tidak naik bersamaku
Seharusnya, kita bersama meletakkan kepala pada meja
memandangi semburat jingga pada langit akibat matahari yang mengaku ingin tidur

Kau yang berjanji menunggu di sana, hingga ku berangkat dari puluhan stasiun sebelum mata pada kepalamu melihat kepul asap kepala keretaku

Keretaku berhenti beberapa menit
Aku menunggu pada pintu gerbong
Kau memandangiku, namun tak jua beranjak dari bawah jam besar itu

Kau lepas aku dengan lambaian

Keretaku telah melaju puluhan kilometer dari titik tolak kita
Keretaku telah melaju,
dan tak mungkin mundur
Kecuali aku benar-benar berniat memindahkan kepala keretaku
Kecuali aku kembali menjadikanmu tujuan

Thursday, 19 December 2013

Satu-satunya inspirasi yang tak pernah bisa kujadikan puisi, yaitu kau.

Tuesday, 10 December 2013

Bersama

Kita ada di sini, bukan untuk menjadi sama
Karena Tuhan pun tidak berniat menjadikan kita sama
Kita hanya berada dalam dimensi yang sama
Dengan jiwa yang berbeda
untuk berjalan bersama