Friday, 27 December 2013

Rumahmu Menantikanmu Kembali

Sesekali kubiarkan kau lalu
Sehari dua hari
Jati sudah meranggas
Angin tak pula memberi tanda tegas
Bahwa kau akan berkemas
Kemudian bergegas kemari
Rumahmu
Menantikanmu
Kembali
Kita manusia, individu
--satu dari sekian triliun manusia di jagat raya-- 
harus percaya bahwa Ia yang adalah Satu
selalu memerhatikan kita
--yang setiapnya tercipta hanya satu ini--
di antara partikel-partikel jagat lainnya.

Sunday, 22 December 2013

Kereta Kehabisan Rel

Aku tertidur pada kereta yang membawaku entah kemana
Sesungguhnya, aku tak benar-benar tidur
Memejamkan mata berharap tenggelam dari pikuk suasana
Aku baru ingin membuka mata ketika kereta benar-benar telah tiba di tujuan
Atau, ku tak akan lagi membuka mata akibat ku tiba di kuburan
Sebab keretaku menumbuk gunung, karena ternyata rel yang harus dilaluinya telah habis.

Friday, 20 December 2013

Melewati Tugu, Kau Melewatiku

Kunantikan kau di gerbong 8
Tugu terlewati sudah
Namun kau tak jua di hadapanku saat ini

Keretaku telah melaju beberapa kilometer dari tempatmu berdiri
Kau memilih untuk tinggal dan tidak naik bersamaku
Seharusnya, kita bersama meletakkan kepala pada meja
memandangi semburat jingga pada langit akibat matahari yang mengaku ingin tidur

Kau yang berjanji menunggu di sana, hingga ku berangkat dari puluhan stasiun sebelum mata pada kepalamu melihat kepul asap kepala keretaku

Keretaku berhenti beberapa menit
Aku menunggu pada pintu gerbong
Kau memandangiku, namun tak jua beranjak dari bawah jam besar itu

Kau lepas aku dengan lambaian

Keretaku telah melaju puluhan kilometer dari titik tolak kita
Keretaku telah melaju,
dan tak mungkin mundur
Kecuali aku benar-benar berniat memindahkan kepala keretaku
Kecuali aku kembali menjadikanmu tujuan

Thursday, 19 December 2013

Satu-satunya inspirasi yang tak pernah bisa kujadikan puisi, yaitu kau.

Tuesday, 10 December 2013

Bersama

Kita ada di sini, bukan untuk menjadi sama
Karena Tuhan pun tidak berniat menjadikan kita sama
Kita hanya berada dalam dimensi yang sama
Dengan jiwa yang berbeda
untuk berjalan bersama

Monday, 22 April 2013

Siapa suruh membuang undi, akhirnya kau mati.

Hujan Menghentikan Ibuku


Bagi sebagian orang, memaknai hujan adalah suatu ritual sakral tersendiri. Aku salah satunya. Itu sebab kupilih kamar dengan jendela bersebelahan awan di flat ini.  Agar, sewaktu ia menumpahkan hujan, aku bisa menjadi mahluk pertama yang melihatnya. Mengawal ribuan butir itu dengan lekat tatap hingga meretas tanah.
Aku mencintai hujan

Itu juga sebab, aku selalu memilih tempat duduk tepat sebelah jendela di bis menuju rumah ini. Ketika kelak hujan turun, aku dapat melihat butir-butir itu terbentur pasrah pada beningnya kaca. Memecah, kemudian menyatu. Memecah, kemudian menyatu.
Ia tak pernah sendiri

Hujan juga, selalu menemaniku pulang ke rumah. Aku seringkali menunggu hari mendung untuk pulang ke rumah. Bisa kutebak kapan hari turun hujan di kota kecil ini. Jika sudah satu kali turun, hujan akan turun sehari selang sehari disini.
Biasanya tepat pukul 2 siang-kelabu-hari

Namun siapa sangka, kepulanganku siang hari itu, di tengah hujan. Aku lupa membawa payung kelabu kesayanganku. Payung pemberian ibu ketika aku akhirnya pergi meninggalkan rumah untuk hijrah kuliah ke kota kecil ini.

Kuyuplah aku tiba di terminal.


Jari-jariku menari-nari di jendela.
Berusaha menyentuh butiran-memecah-menyatu tersebut di permukaan lain kaca 0.5 mili itu.

Hujan hari itu tidak mendamaikan seperti biasanya.
Guruh terdengar bagai ombak bergulung di langit.
Kilat menunjukkan gagahnya, benderang mengurat.
Seketika aku membenci hujan

Ia begitu menyeramkan hari itu

Aku mencoba menghubungi ibu, karena aku tahu, satu-satunya penakluk rasa takutku hanyalah kehadiran ibuku.

“tuut... tuut ....”
Tak ada jawaban

Mungkin ibu sedang membuat kue.
Oia, ibuku adalah pembuat kue terkenal di desa.

Kucoba lagi
“tuut... tuut...”
..........................

Ah, biarlah. Mungkin ibu sedang sibuk.
Kuputuskan untuk tidur saja.




DRUAR!
Guntur menyambar pendengaranku. Aku bangun gelagapan. Fyuh.Segera kuraih ponselku di saku  jaket. 19 pesan baru. 27 panggilan tak terjawab.
Apa-apaan ini?

Pesan teratas kubuka...
Mbok Jah, pembantu rumahku
Inna ... Neng, dimana? Mbok telfon kenapa ga diangkat-angkat?                                   
Ibu, neng, jatuh waktu mau angkat telpon neng. Terpeleset air hujan di teras.
Ibu . . .

Bagai guntur menyambar jantungku.
Aku kalut.

Seandainya waktu itu tidak hujan.
Seandainya waktu guntur tidak bertingkah sok gagah.
Aku tidak akan takut.
Ibu tidak akan pergi –

Kini, aku mual melihat hujan.
Aku muak kepada tiap butirnya yang jatuh di kepalaku.

                                                                                                   Jatinangor, 22 April 2013

Sunday, 21 April 2013

Menatap lekat pelangi yang bahkan kulihat samar di bentang langit sana
Sama seperti mendekapmu erat dalam hati, tapi tak pernah nyata di pelukan.

Tuesday, 15 January 2013

Halo, A!



Halo. Postingan pertama di 2013, dan ternyata ini untuk kamu
-yang dari tahun-tahun lalu aku mau-

Kembali lagi kulihat kamu, dengan tak jemu
Mengetahui kamu tetap ada di balik klik @A....
Mengetahui kamu masih ada di A....

Apa kabar kamu, A?

--Selamat telah menjadi bahan tulisan pertama di awal tahun ini.



Jatinangor, 15 Januari 2013