Sehari dua hari
Angin tak pula memberi tanda tegas
Bahwa kau akan berkemas
Kemudian bergegas kemari
Menantikanmu
Kembali
"Seperti hujan, begitu aku memujamu. Kutumpahkan segala yang telah kutampung untuk bisa kau nikmati sebagai tanah."
Aku tertidur pada kereta yang membawaku entah kemana
Sesungguhnya, aku tak benar-benar tidur
Memejamkan mata berharap tenggelam dari pikuk suasana
Aku baru ingin membuka mata ketika kereta benar-benar telah tiba di tujuan
Atau, ku tak akan lagi membuka mata akibat ku tiba di kuburan
Sebab keretaku menumbuk gunung, karena ternyata rel yang harus dilaluinya telah habis.
Kunantikan kau di gerbong 8
Tugu terlewati sudah
Namun kau tak jua di hadapanku saat ini
Keretaku telah melaju beberapa kilometer dari tempatmu berdiri
Kau memilih untuk tinggal dan tidak naik bersamaku
Seharusnya, kita bersama meletakkan kepala pada meja
memandangi semburat jingga pada langit akibat matahari yang mengaku ingin tidur
Kau yang berjanji menunggu di sana, hingga ku berangkat dari puluhan stasiun sebelum mata pada kepalamu melihat kepul asap kepala keretaku
Keretaku berhenti beberapa menit
Aku menunggu pada pintu gerbong
Kau memandangiku, namun tak jua beranjak dari bawah jam besar itu
Kau lepas aku dengan lambaian
Keretaku telah melaju puluhan kilometer dari titik tolak kita
Keretaku telah melaju,
dan tak mungkin mundur
Kecuali aku benar-benar berniat memindahkan kepala keretaku
Kecuali aku kembali menjadikanmu tujuan
Kita ada di sini, bukan untuk menjadi sama
Karena Tuhan pun tidak berniat menjadikan kita sama
Kita hanya berada dalam dimensi yang sama
Dengan jiwa yang berbeda
untuk berjalan bersama